Pernahkah
teman-teman membeli barang yang sebenarnya sudah ada di rumah ? Atau pernahkah
membeli barang hanya karena mengikuti teman ? atau jangan-jangan pernah membeli
barang yang sebenarnya tidak penting ?
Saat
aku menulis pertanyaan ini, tentu aku pernah membeli barang yang sebenarnya
sudah ada di rumah. Misalnya sepatu untuk kuliah sudah punya 3 dan masih bagus
tapi aku membeli lagi karena modelnya unik. Bahkan pernah juga membeli barang
seperti baju hanya untuk mengikuti teman dan membeli barang yang tidak penting
seperti lipstik karena ingin sekedar punya.
Kebiasaan
ini terjadi terus-menerus sampai aku menginjak semester tiga saat kuliah.
Hingga aku sering menunda suatu kebaikan yang sangat Allah sukai yaitu zakat atau berbagi. Padahal Ibuku juga
selalu mengingatkan untuk melakukannya, kalau bisa setiap hari. Tapi aku
menganggap semua ini biasa saja dan lagipula bisa besok-besok. Ah, sungguh
diriku terlalu egois saat itu hanya memikirkan kebutuhan duniawi saja. Padahal,
pada saat menghabiskan uangku untuk hal-hal tidak bermanfaat, mungkin
tetanggaku atau teman atau bahkan orang diluar sana sedang bekerja keras untuk
memperoleh uang.
Tanpa
aku sadari, kebiasaan membeli barang yang tidak penting dan kebiasaan menunda berbagi atau zakat menjadikanku lupa bahwa hakikatnya rezeki itu sebagian milik
orang lain. Sungguh, kebiasaan menunda melakukan kebaikan itu memiliki dampak
yang sangat tidak baik bagi diriku. Aku sangat merasakan kerugian karena uang
yang seharusnya bisa kuberikan kepada orang yang membutuhkan malah dihabiskan
untuk membeli barang seperti baju. Lalu, bagaimana aku bisa sadar bahwa berbagi
itu sangat dianjurkan ?
Suatu
ketika, saat aku pulang kuliah, tetanggaku (seorang ibu) meninggal dunia.
Beliau meninggalkan seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMP. Anak
laki-laki itu menjadi yatim piatu. Hari itu, pikiranku benar-benar dibuka, aku
memikirkan seandainya diri ini yang mengalami hal tersebut mungkin tidak akan sanggup
menerimanya. Hidup sendirian tanpa ada orangtua sungguh sangat sulit apalagi
masih dalam kondisi sekolah. Sejak saat itu aku berusaha terus-menerus untuk
mengurangi membeli barang-barang yang tidak penting dan berusaha berbagi. Kemudian,
aku memulai memberikan jajan atau makanan yang ada di rumah kepada anak
laki-laki yang merupakan tetanggaku tersebut. Tidak banyak yang kuberi tapi
semoga bisa membuat aku semakin sadar bahwa ada orang lain yang memerlukannya.
Ketika aku memperoleh uang lebih maka sebagian aku berikan untuknya.
Sepanjang
melakukan hal tersebut, aku merasakan bahwa
hidup bukan tentang kebahagiaan diri sendiri melainkan menciptakan kebahagiaan
untuk orang lain. Kebahagiaan yang sekaligus untuk mendapatkan ridho Allah
SWT. Allah sudah berfirman dalam Q.S Al
Ma’un ayat 1-3 yang artinya,”Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?; maka
itulah orang yang menghardik anak yatim; dan tidak mendorong memberi makan
orang miskin.....”.[1]
Firman
Allah dalam Q.S Al Ma’un sudah mengingatkan kita sebagai hambaNya untuk berbagi
atau berzakat kepada anak yatim dan juga orang miskin. Semoga niat kita berbagi
hanya ditujukan untuk mendapat ridho Allah SWT. Semoga bisa tetap konsisten
untuk melakukan kebaikan ini.
Kalian
pernah dengar tentang manfaat berbagi
atau zakat ? Mungkin ini salah satu yang aku rasakan saat mengalami
kesulitan ketika kuliah. Tanggal 3 Oktober 2018 aku harus melaksanakan sidang
skripsi. Alhamdulillah Tsumma Alhamdulillah. Seminggu sebelum sidang, aku sama
sekali tidak punya uang. Sedangkan waktu untuk sidang seminggu lagi dan harus
iuran dengan teman-teman untuk membeli keperluan. Aku berdoa semoga nanti ada
rezeki tepat waktu. Benar saja, Allah Maha Melihat dan Maha Pengasih kepada
setiap hamba-hambaNya. Tiga hari sebelum sidang tepatnya sore hari aku menerima
pesan Whatsapp dari pihak rektorat
bahwa aku mendapatkan uang tanda apresiasi karena tahun 2017 berhasil
memenangkan lomba Microteaching di
UPI Bandung. Seketika aku sujud syukur betapa Allah selalu menolong kita, MasyaAllah. Alhamdulillah
aku bisa ikut sidang pada tanggal 3 Oktober 2018. Saat itu aku sadar betapa
pentingnya zakat atau berbagi kepada
orang lain. Bisa jadi kebaikan-kebaikan berbagi akan menjadikan kita memperoleh
pertolongan dari Allah SWT. Kebaikan
berbagi yang aku peroleh mungkin bisa menjadi dorongan untukku dan
teman-teman semua agar tidak menunda berbagi dan bisa lebih bijak lagi dalam
memanfaatkan uang. Kalau menurutku, saat
akan berbagi bukan perkara jumlahnya tapi konsistensi dan keikhlasan yang
diperlukan agar kelak kita memetik berkah dari Allah SWT.
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh
Dompet Dhuafa”
Sumber Referensi:
[1] Al-Qur'an Tajwid yang diterbitkan oleh Maghfirah Pustaka
Ayo tebar kebaikan di sini! Klik link ini ya
www.dompetdhuafa.org
Ma syaa Allaah... Tabarakallaah nurull ❤❤
BalasHapusMasyaa Allah 😍
BalasHapus