Langsung ke konten utama

Jangan Menunda


Pernahkah teman-teman membeli barang yang sebenarnya sudah ada di rumah ? Atau pernahkah membeli barang hanya karena mengikuti teman ? atau jangan-jangan pernah membeli barang yang sebenarnya tidak penting ?

Saat aku menulis pertanyaan ini, tentu aku pernah membeli barang yang sebenarnya sudah ada di rumah. Misalnya sepatu untuk kuliah sudah punya 3 dan masih bagus tapi aku membeli lagi karena modelnya unik. Bahkan pernah juga membeli barang seperti baju hanya untuk mengikuti teman dan membeli barang yang tidak penting seperti lipstik ­karena ingin sekedar punya.

Kebiasaan ini terjadi terus-menerus sampai aku menginjak semester tiga saat kuliah. Hingga aku sering menunda suatu kebaikan yang sangat Allah sukai yaitu zakat atau berbagi. Padahal Ibuku juga selalu mengingatkan untuk melakukannya, kalau bisa setiap hari. Tapi aku menganggap semua ini biasa saja dan lagipula bisa besok-besok. Ah, sungguh diriku terlalu egois saat itu hanya memikirkan kebutuhan duniawi saja. Padahal, pada saat menghabiskan uangku untuk hal-hal tidak bermanfaat, mungkin tetanggaku atau teman atau bahkan orang diluar sana sedang bekerja keras untuk memperoleh uang.

Tanpa aku sadari, kebiasaan membeli barang yang tidak penting dan kebiasaan menunda berbagi atau zakat menjadikanku lupa bahwa hakikatnya rezeki itu sebagian milik orang lain. Sungguh, kebiasaan menunda melakukan kebaikan itu memiliki dampak yang sangat tidak baik bagi diriku. Aku sangat merasakan kerugian karena uang yang seharusnya bisa kuberikan kepada orang yang membutuhkan malah dihabiskan untuk membeli barang seperti baju. Lalu, bagaimana aku bisa sadar bahwa berbagi itu sangat dianjurkan ?

Suatu ketika, saat aku pulang kuliah, tetanggaku (seorang ibu) meninggal dunia. Beliau meninggalkan seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMP. Anak laki-laki itu menjadi yatim piatu. Hari itu, pikiranku benar-benar dibuka, aku memikirkan seandainya diri ini yang mengalami hal tersebut mungkin tidak akan sanggup menerimanya. Hidup sendirian tanpa ada orangtua sungguh sangat sulit apalagi masih dalam kondisi sekolah. Sejak saat itu aku berusaha terus-menerus untuk mengurangi membeli barang-barang yang tidak penting dan berusaha berbagi. Kemudian, aku memulai memberikan jajan atau makanan yang ada di rumah kepada anak laki-laki yang merupakan tetanggaku tersebut. Tidak banyak yang kuberi tapi semoga bisa membuat aku semakin sadar bahwa ada orang lain yang memerlukannya. Ketika aku memperoleh uang lebih maka sebagian aku berikan untuknya.

Sepanjang melakukan hal tersebut, aku merasakan bahwa hidup bukan tentang kebahagiaan diri sendiri melainkan menciptakan kebahagiaan untuk orang lain. Kebahagiaan yang sekaligus untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Allah sudah berfirman dalam Q.S Al Ma’un ayat 1-3 yang artinya,”Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?; maka itulah orang yang menghardik anak yatim; dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.....”.[1]

Firman Allah dalam Q.S Al Ma’un sudah mengingatkan kita sebagai hambaNya untuk berbagi atau berzakat kepada anak yatim dan juga orang miskin. Semoga niat kita berbagi hanya ditujukan untuk mendapat ridho Allah SWT. Semoga bisa tetap konsisten untuk melakukan kebaikan ini.

Kalian pernah dengar tentang manfaat berbagi atau zakat ? Mungkin ini salah satu yang aku rasakan saat mengalami kesulitan ketika kuliah. Tanggal 3 Oktober 2018 aku harus melaksanakan sidang skripsi. Alhamdulillah Tsumma Alhamdulillah. Seminggu sebelum sidang, aku sama sekali tidak punya uang. Sedangkan waktu untuk sidang seminggu lagi dan harus iuran dengan teman-teman untuk membeli keperluan. Aku berdoa semoga nanti ada rezeki tepat waktu. Benar saja, Allah Maha Melihat dan Maha Pengasih kepada setiap hamba-hambaNya. Tiga hari sebelum sidang tepatnya sore hari aku menerima pesan Whatsapp dari pihak rektorat bahwa aku mendapatkan uang tanda apresiasi karena tahun 2017 berhasil memenangkan lomba Microteaching di UPI Bandung. Seketika aku sujud syukur betapa Allah selalu menolong kita, MasyaAllah. Alhamdulillah aku bisa ikut sidang pada tanggal 3 Oktober 2018. Saat itu aku sadar betapa pentingnya zakat atau berbagi kepada orang lain. Bisa jadi kebaikan-kebaikan berbagi akan menjadikan kita memperoleh pertolongan dari Allah SWT. Kebaikan berbagi yang aku peroleh mungkin bisa menjadi dorongan untukku dan teman-teman semua agar tidak menunda berbagi dan bisa lebih bijak lagi dalam memanfaatkan uang. Kalau menurutku, saat akan berbagi bukan perkara jumlahnya tapi konsistensi dan keikhlasan yang diperlukan agar kelak kita memetik berkah dari Allah SWT.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Sumber Referensi:
[1] Al-Qur'an Tajwid yang diterbitkan oleh Maghfirah Pustaka

Ayo tebar kebaikan di sini! Klik link ini ya
www.dompetdhuafa.org

Komentar

Posting Komentar