"Hidup ini gak adil, semua orang jahat, semua orang hanya mau menang sendiri, selalu uang dan uang yang berharga bagi mereka, bahkan perasaanku gak pernah sama sekali dihiraukan,"batin Nuri.
Nuri masih terdiam, tatapannya hanya tertuju pada lemari kayu di kamarnya. Seluruh ruangan lengang tak ada percakapan sama sekali. Sepertinya seluruh orang di rumahnya terpaksa mengunci mulut mereka. Memaksa diri untuk tetap berdiri dan bertindak seperti tidak terjadi apa-apa.
Kali ini, untuk kesekian kalinya lelaki bertubuh besar itu menjadikan Nuri seperti seorang teroris kejam. Nuri hampir kehilangan kesadaran karena harus bergelut ucapan dengan lelaki itu. Bukan hanya hari ini Nuri seperti kehilangan hidupnya. Bahkan setiap hari Ia harus tetap tersenyum untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar