Aku
berangkat menuju ke kampus pagi ini bersama sahabtaku, Fitri. Aku seringkali
merepotkannya karena kadang Fitri datang lebih dulu ke rumah, layaknya cowok
menjemput pacarnya :D. Tapi, itulah sifatnya yang ringan tangan, Alhamdulillah
bersyukur dipertemukan dengannya.
Pagi itu aku berpamitan dengan mamak karena adikku sudah berangkat sekolah lebih dulu dan Bapak udah berangkat berjualan. Oh iya, tak lupa aku berpamitan pada si Kakak dan si Gendut. Mereka berdua juga tinggal di rumahku, sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Aku sangat senang mengajaknya ngobrol saat berada di rumah meskipun dia tidak mengerti aku ngomong apa :D. Tapi, aku begitu lega bisa menceritakan apapun yang aku rasakan terutama tentang skripsi. Mereka, teman keduaku setelah Mamak. Mereka itu sangat lucu, imut, ganteng, dan menggemaskan. Mereka sangat menyukai nasi dicampur dengan ikan apa saja kecuali ikan-ikanan :D. Si Kakak berwarna orange sedangkan gendut berwarna orange campur putih. Sesuai dengan namanya bukan ? Kalo Gendut ya pasti badannya gendut wkwk, kalo Kakak langsing dan dia merupakan pendatang pertama di keluargaku. Kakak ditemukan di jalan dekat rumah oleh adikku. Kemudian, Kakak dibawa ke rumah dan kami rawat dengan baik sampai saat ini (kira-kira sudah berusia 2 tahun lebih). Sedangkan si Gendut datang sendiri ke rumah saat sudah besar. Awalnya dia tiduran di teras rumah, aku melihatnya dan langsung menyukainya. Wah, ternyata si gendut sangat menggemaskan karena rambutnya berbeda dari si Kakak dan Gendut jinak sekali ketika digendong. Hemm, aku jadi rindu dia.
Gak terasa waktu sudah sore, aku bersama fitri pulang dengan mengendarai motor. Seperti biasa aku selalu cerewet bercerita apapun yang gak penting, sampai-sampai aku tertawa cekikian. Tapi, fitri gak pernah bosan dengerin aku cerita :D. Nah, sesampainya di rumah aku mengucapkan salam dan langsung bersalaman sama mamak. Bapak dan adikku entah deh ke mana apa aku yang lupa gak salaman sama mereka ya :D. Seperti biasa aku bertanya ke mamak
”Mak,
si Kakak mbek Gendut mpun maem horong?”
“Uwes
nok, tapi ki gendut rong bali-bali ket mau awan. Mau ki dolan nang ngarep kunu
tapi tak inguk-inguk kok ra ono.”
“Oh,
jeh senengan paling karo wedokan kae Mak, ngko lak an bali.”
Adzan maghrib sudah berkumandang namun Gendut belum juga pulang. Aku mulai kepikiran dan panik. Lalu, aku menyuruh adikku memnggilnya keluar rumah, barangkali dia ada di dalam rumah tetanggaku. Namun, sudah sekitar 10 menit dipanggil tak juga muncul. Aku makin gelisah memikirkan Gendut sedangkan Kakak sudah pulang sejak tadi. Aku sampai suudzon kalo Bapak membuang Gendut karena Bapak kurang menyukai Kakak dan Gendut. Tapi karena aku memaksa merawat mereka akhirnya Bapak mengalah, hehe.
Semalaman aku memikirkan Gendut yang belum juga pulang sampai aku terlelap hingga aku terbangun lagi dan gendut belum juga pulang. Aku sangat khawatir sampai bertanya berkali-kali pada mamak. Mamak pun bingung gak biasanya Gendut seperti ini. Aku sempet mau nangis karena Gendut gak pulang-pulang tapi tak tahan karena malu :D.
Sejak Februari hingga 7
April 2019 Gendut tak pernah pulang. Aku sangat sedih dan masih teringat sampai
sekarang. Aku selalu mendoakan Gendut, semoga dimanapun berada selalu baik-baik
saja, tetap menjadi kucing yang berambut halus, jinak, menggemaskan, dan ketika
berlari seperti kesusahan karena menahan berat badannya, hihi. Jika dia
ditemukan oleh orang lain aku berharap orang tersebut merawatnya, menjaganya,
dan menyayanginya, Aamiin. Huhuhu, sampai mau nangis nulis ini karena aku
sayang Gendut dan kangen Gendut.
Komentar
Posting Komentar