Bandung, 25 November 2017
Malam
ini mulutku terus berkomat kamit menghapal naskahku, kadang diselingi canda
tawa bersama Desi. Aku, Desi, dan Dini akan berjuang esok hari 25 November
2017. Dini sangat tenang dan tak pernah terlihat menghapal naskahnya, sedangkan
Aku sangat gupek tak terdefinisi, Desi selalu sabar meyakinkanku kalo kamu bisa
Bu.
Semakin
malam, rasa ragu kian membara dan hampir membuatku ingin mundur saja dari
kompetisi ini. Lalu, aku ingat bahwa apa yang terjadi padaku saat ini merupakan
takdir dariNya, jadi aku harus tetap maju esok hari. Lalu, aku berpikir lagi
kenapa aku harus ragu ? Ada Allah Yang Maha Mengabulkan doa hambaNya. Ibu,
Bapak, dan Adikku yang menungguku dengan sejuta harapan di Lampung, maka aku
harus berjuang esok hari. Atu Lia yang sudah meluangkan waktunya untukku dan
Desi juga sudah menyemangati apapun hasilnya itulah yang terbaik. Selanjutnya
aku kembali membaca surat Ar Rahman berharap keraguanku segera hilang. Alhamdulillah
malam ini aku sedikit yakin dan tenang sehingga bisa tidur dengan nyenyak.
Sewaktu SMP aku pernah
melihat salah satu kakak kelas dan temanku memegang piala karena memenangkan
perlombaan. Sejak hari itu, aku selalu berdoa agar bisa diberi kepercayaan
memegang piala dan memberikannya pada sekolah. Doa itu selalu kupanjatkan
sehabis sholat, kadang aku sampai nangis. Entah kenapa aku ingin sedikit
memberikan kebahagiaan kepada Ibuku, Ibuku, dan Ibuku, lalu Bapakku. Mungkin
kesempatan ini yang diberikan Allah kepadaku, mungkin saja dan semoga.
Pagi
ini, kami berangkat terburu-buru karena harus sampai di Gedung JICA pukul
06.30. Kami berpamitan kepada Mita dan Ayu (kawan Mita). Niat awalku ingin melihat
UPI dan menyampaikan ilmuku dengan sebaik mungkin kepada siswaku, selebihnya
aku pasrahkan kepada Allah. Bismillah Ya Allah, tak lupa aku memakai baju batik
milik Ibuku yang kubawa, kemudian meminta doa lewat sms kepada Ibuku.
Detik-detik
memasuki ruangan itu udah kayak masuk ruang hantu, mencekam bro. Acara demi
acara pembukaan telah berlalu, sekarang saatnya berjuang, aku mendapatkan
urutan maju nomor enam kalo gak salah inget, Desi pertama, Dini ke empat apa ya
aku agak lupa Din maafkeun. Tibalah giliranku, Ya Allah mudahkanlah lisanku
untuk menyampaikan ilmu ini kepada siswaku. Aamiin Hanya itu yang kuucapkan
sebelum memasuki ruangan.
Empat
puluh menit berlalu, aku keluar ruangan jingkrak-jingkrak meluk Desi, aku lega
udah maju. Adzan asar telah berkumandang dan Alhamdulillah kompetisi selesai
dan saatnya menunggu pengumuman.
Allah Maha Mengabulkan
segala sesuatunya di saat yang tepat. Benar sekali, aku percaya itu. Atas izin
Allah, doa Ibuk Bapakku, Bapak/Ibu Dosen, dan teman teman maka Allah izinkan
aku memegang dan membawa pulang piala itu. Robbi, ampuni aku yang masih sering
lalai padahal nikmatMu tiada henti mengalir kepadaku. Robbi, inikah jawaban
atas doa-doaku sejak SMP ? Alhamdulillah Ya Allah...

Komentar
Posting Komentar